Hama Penting Pada Tanaman Jagung
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Di Indonesia, jagung merupakan bahan
pangan penting sumber karbohidrat
kedua setelah beras. Disamping itu, jagung pun digunakan untuk bahan
makanan ternak (pakan) dan bahan baku industri. Penggunaan
sebagai bahan pakan yang sebgian besar untuk pakan ternak ayam buras
menunjukan tendensi makin meninggkat setiap tahun dengan laju
kenaikan lebih dari 20%. Sebaliknya pangguanaan sebagai bahan pangan
menurun.
Disentralisasi Hama penyakit pada
tanaman jagung tersendiri menjadi tantangan dalam peningkatan
produksi, tingkat persentase serangan hama dapat mencapai 60 % yang
dapat menyebabkan menurunnya hasil produksi pertanian. Seperti Ulat
penggerek daun atau batan maupun yang lainnya. Hama
ini dapat merusak tanaman jagung baik pada fase vegetatif maupun pada
fase generatif.
Berbagai
cara pengendalian
telah
dilakukan antara lain penggunaan insektisida dan varietas tahan.
Penggunaan insektisida dalam pengendalian hama sangat populer
dikalangan petani, namun banyak fakta yang menunjukkan bahwa
penggunaan insektisida yang sangat intensif justru memacu
perkembangan populasi hama, sehingga intensitas serangan hama makin
meningkat serta berdampak buruk bagi lingkungan, misalnya terjadi
resistensi serangga terhadap insektisida, resurgensi,
keracunan/matinya musuh alami dan serangga bukan hama, serta
mening-katnya biaya produksi. Sedangkan peng-gunaan varietas tahan
masih sangat terbatas pada uji preferensi pada ekosistem yang
terbatas.
1.2. Tujuan dan Kegunaan
Adapun tujuan penting dalam mempelajari hama penting yang
menyerang tanaman jagung (Zea mayz L) yaitu mengetahui
jenis-jenis hama yang menyerang tanaman jagung, gejala serangannya,
dan pengendaliannya. Sedangkan kegunaannya adalah
sebagai bahan informasi dalam pengelompokan tingkat serangan hama
pada tanaman jagung
O. furnacalis termasuk
ke dalam ordo Lepodoptera dan famili Pyralidae. Hama ini tersebar
luas di dan Australia dan dapat menyerang tanaman jagung baik pada
fase vegetatif maupun fase generatif. Kerusakan
tanaman terjadi karena larva menggerek bagian batang tanaman untuk
mendapatkan makanan. Beberapa peneliti mengemukakaan bahwa
gerekan O. furnacalis pada
batang tidak berpengaruh nyata terhadap penurunan hasil tanaman
jagung (Nafus dan Schreiner 1991).
Imago O. furnacalis
dapat meletakkan telur 300-500 butir
dan umumnya meletakkan telur secara berkelompok di permukaan bawah
daun pada tanaman yang berumur 2 minggu terutama pada daun muda yaitu
tiga daun teratas (Kalshoven 1981). Jumlah telur tiap kelompok sangat
beragam antara 30-50 butir atau bahkan dapat lebih dari 90 butir.
Puncak peletakan telur terjadi pada stadia pembentukan malai sampai
keluarnya bunga jantan. Kelompok telur yang diletakkan selama fase
pembentukan bunga jantan sampai rambut tongkol berwarna coklat,
larvanya memberi kontribusi terbesar terhadap kerusakan tanaman
(Subandi et al.
1988). BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Hama Utama Tanaman Jagung
2.1.1. Penggerek Batang Jagung,
O. furnacalis (Lepidoptera:Pyralidae)
O. furnacalis termasuk
ke dalam ordo Lepodoptera dan famili Pyralidae. Hama ini tersebar
luas di dan Australia dan dapat menyerang tanaman jagung baik pada
fase vegetatif maupun fase generatif. Kerusakan
tanaman terjadi karena larva menggerek bagian batang tanaman untuk
mendapatkan makanan. Beberapa peneliti mengemukakaan bahwa
gerekan O. furnacalis pada
batang tidak berpengaruh nyata terhadap penurunan hasil tanaman
jagung (Nafus dan Schreiner 1991).
Imago O. furnacalis
dapat meletakkan telur 300-500 butir
dan umumnya meletakkan telur secara berkelompok di permukaan bawah
daun pada tanaman yang berumur 2 minggu terutama pada daun muda yaitu
tiga daun teratas (Kalshoven 1981). Jumlah telur tiap kelompok sangat
beragam antara 30-50 butir atau bahkan dapat lebih dari 90 butir.
Puncak peletakan telur terjadi pada stadia pembentukan malai sampai
keluarnya bunga jantan. Kelompok telur yang diletakkan selama fase
pembentukan bunga jantan sampai rambut tongkol berwarna coklat,
larvanya memberi kontribusi terbesar terhadap kerusakan tanaman
(Subandi et al.
1988).
Larva instar pertama langsung berpencar segera
sesudah menetas ke bagian tanaman yang lain. Pada stadia pembentukan
malai larva instar I hingga instar III akan makan daun muda yang
masih menggulung dan pada permukaan daun yang terlindung dari daun
yang telah membuka. Sekitar 67-100% dari larva instar I dan II berada
pada bunga jantan. Larva instar III masih sebagian besar berada pada
bunga jantan meskipun sudah ada pada bagian tanaman yang lain. Instar
IV hingga VI mulai menggerek pada bagian buku dan masuk ke dalam
batang. Larva masuk ke dalam batang dan menggerek ke bagian atas.
Gejala visual serangan O.
furnacalis pada batang adalah adanya
lubang gerek pada batang serta terdapatnya kotoran larva di dekat
lubang tersebut. Apabila batang dibelah akan tampak liang gerek larva
di dalam batang (Malijan dan Sanchez, 1986 dalam
Subandi et
al. 1988). Menurut Culy (2001), gerekan
larva pada batang menyebabkan kerusakan jaringan pembuluh sehingga
menggangu proses transportasi air dan unsur hara dan mengakibatkan
pertumbuhan terhambat yang pada akhirnya dapat mempengaruhi hasil
tanaman. Selain itu, sering ditemukan juga larva instar I-III makan
pada pucuk tongkol dan rambut tongkol. Instar berikutnya makan
pada tongkol dan biji.
Larva yang akan membentuk pupa membuat lubang keluar yang ditutup
dengan lapisan epidermis. Sebagian stadia larva ditemukan makan pada
sorgum, Panicum viride, Amaranthus dan berbagai jenis
tumbuhan lain apabila tanaman jagung sudah dipanen.
Imago meletakkan telur pada malam hari dan sering
dijumpai pada rambut tongkol jagung. Telur diletakkan satu per satu
di atas rambut jagung. Setelah menetas larva berpindah ke bagian
tongkol jagung yang masih muda dan memakan langsung biji-biji jagung.
Seekor betina dapat meletakkan telur hingga
1000 butir. Stadium telur 2-5 hari. Larva yang baru menetas akan
makan pada rambut tongkol dan kemudian membuat lubang masuk ke
tongkol. Ketika larva makan akan meninggalkan kotoran dan tercipta
iklim mikro yang cocok untuk pertumbuhan cendawan yang menghasilkan
mikotoksin sehingga tongkol rusak.
Larva H. armigera
memiliki kebiasaan makan secara
berpindah dari satu buah ke buah lainnya, sehingga jumlah buah yang
dirusak selalu lebih banyak daripada jumlah larva yang ada pada
tanaman (Daha et al. 1998).
Penggerek ini juga dapat menyerang tanaman muda terutama pada pucuk
atau malai yang dapat mengakibatkan tidak terbentuknya bunga jantan,
berkurangnya hasil dan bahkan tanaman dapat mati (Subandi et
al. 1988).
Larva muda berwarna putih kekuning-kuningan dengan
toraks berwarna hitam. Stadium larva terdiri dari 6 instar dan
berjumlah antara 17-24 dalam satu tongkol. Larva instar terakhir akan
meninggalkan tongkol dan membentuk pupa dalam tanah. Stadium pupa
berkisar antara 12-14 hari. Dari telur hingga stadia dewasa berupa
kupu-kupu kecil berkisar 35 hari dan terbang mengisap madu dari bunga
(Kalshoven 1981).
Gejala serangan ulat penggerek tongkol dimulai
pada saat pembentukan kuncup bunga dan buah muda. Menurut Daha et
al. (1998), tanaman tomat atraktif
terhadap peneluran H. armigera selama
berlangsung fase pembungaan. Larva H.
armigera masuk ke dalam buah muda,
memakan biji-biji jagung karena larva hidup di dalam buah, biasanya
serangan serangga ini sulit diketahui dan sulit dikendalikan dengan
insektisida (Sarwono 2003).
2.1.3. Ulat Grayak (Spodoptera
litura, Mythimna sp. Noctuidae: Lepidotera)
Spodoptera
litura
meletakkan telur secara berkelompok di permukaan daun dan ditutupi
oleh bulu-bulu yang berwarna coklat muda dan setiap kelompok telur
terdiri atas 50-400 butir. Larva terdiri atas enam instar dan instar
terakhir mempunyai bobot mencapai 800 mg dan menghabiskan 80% dari
total konsumsi makanannya Larva bersembunyi dalam tanah pada siang
hari dan baru aktif pada malam hari, kecuali S.
exempta
yang juga aktif pada siang hari. Spesies ini adalah serangga
polipagous. Tanaman inangnya selain jagung adalah tomat, kapas,
tembakau, padi, kakao, jeruk, ubi jalar, kacang tanah, jarak,
kedelai, kentang, kubis, dan bunga matahari.
Mythimna
sp.
merupakan hama polipagous dan menyerang banyak tanaman, antara lain
jagung, padi, sorgum, dan kacang-kacangan. Ada beberapa spesies dari
genus ini yang dapat merusak tanaman jagung antara lain M.
separata
dan M.
loreyi.
Serangga
meletakkan telur secara berkelompok pada daun dan ditutupi dengan
bulu-bulu yang berwarna coklat. Seekor
M.
separata
betina mampu meletakkan telur 500-900 butir. Masa inkubasi telur
berkisar antara 2-13 hari, bergantung suhu, tetapi normalnya 3-4 hari
pada suhu 25OC.
Telur yang baru diletakkan berwarna hijau keputih-putihan, kemudian
berubah menjadi kuning dan berwarna hitam sebelum menetas.
Larva
instar I memakan cangkang telur. Stadia larva terdiri atas enam
instar dengan stadium 13-18 hari. Pada siang hari larva bersembunyi
dalam tanah dan aktif menyerang pada malam hari. Pola warna larva
berbeda, bergantung pada perilakunya.
Pada
kondisi gregarious larva berwarna gelap dan aktif, sementara pada
kondisi solitary berwarna lebih terang dan pasif. Pupa terbentuk
dalam tanah dengan lama pupasi sekitar sembilan hari. Serangga dewasa
dapat kawin beberapa kali dan meletakkan telur selama 2-6 hari.
Perkembangan dari telur sampai dewasa berkisar 30-39 hari.
Gejala
serangan, Larva serangga ini memakan daun dengan bentuk yang tidak
beraturan. Dalam kondisi yang sangat lapar, larva memakan daun hingga
menyisakan tulang daun.
2.2. Hama Sekunder
2.2.1. Lalat
Bibit (Atherigona
sp.,
Ordo: Diptera)
Atherigona
sp. biasanya meletakkan telur pada pagi hari atau malam hari.
Telur-telur tersebut diletakkan secara tunggal di bawah daun, axil
daun, atau batang dekat permukaan tanah. Telur
menetas pada malam hari minimal 33 jam atau maksimal empat hari
setelah telur diletakkan. Telur spesies ini berwarna putih dengan
panjang 1,25 mm dan lebar 0,35 mm dan warnanya berubah menjadi gelap
sebelum menetas.
Larva
terdiri atas tiga instar dengan stadia larva 6-18 hari. Larva spesies
ini terdiri atas 12 ruas (satu ruas kepala, tiga ruas thorax, dan
delapan ruas abdomen). Panjang larva mencapai 9 mm, berwarna putih
krem pada awalnya dan selanjutnya menjadi kuning hingga kuning gelap.
Pupa
terdapat pada pangkal batang dekat atau di bawah permukaan tanah.
Imago keluar dari pupa setelah 5-12 hari pada pagi atau sore hari.
Puparium berwarna coklat kemerahan sampai coklat dengan panjang 4,1
mm. Segmentasi tidak dapat dibedakan.
Imago
akan terbang satu jam setelah keluar dari pupa. Kopulasi tidak
terjadi pada beberapa hari setelah muncul dari pupa. Serangga dewasa
sangat aktif terbang dan sangat tertarik pada kecambah atau tanaman
yang baru tumbuh. Imago berukuran kecil dengan panjang 2,5-4,5 mm,
caput agak lebar dengan antena panjang, thorax berambut, abdomen
berwarna kuning dengan spot hitam pada bagian dorsal. Imago betina
mulai meletakkan telur 3-5
hari setelah kawin dengan jumlah telur 7-22 butir atau bahkan dapat
mencapai 70 butir. Imago betina meletakkan telur selama 3-7 hari.
Lama
hidup serangga dewasa bervariasi antara 5-23 hari, masa hidup betina
dua kali lebih lama daripada jantan. Siklus hidup telur hingga
menjadi dewasa adalah 21-28 hari.
Gejala
serangan, Larva yang baru menetas melubangi batang, kemudian membuat
terowongan hingga ke dasar batang sehingga tanaman menjadi kuning dan
akhirnya mati. Jika
tanaman mengalami recovery, maka pertumbuhannya akan kerdil.
2.2.2 Kutu Daun, Rhopalosiphum
maidis Fitch. (Homoptera: Aphididae)
Kutu Daun ini menginfeksi semua bagian tanaman,
akan tetapi infeksi terbanyak terjadi pada daun. Kutu ini selain
merusak daun tanaman inangnya juga membawa sebagai vector dari
berbagai macam virus penyakit. Populasi kutu ini dapat mengalami
perkembangan yang pesat.
Perkembangbiakan
kutu daun secara parthenogenesis memungkinkan spesies kutu daun ini
untuk melestarikan jenisnya tanpa harus melakukan perkawinan. Daur
hidup kutu ini dimulai dari telur, kemudian nympha, dan kutu dewasa.
Pada fase nympha, kutu ini mengalami 4 tahapan. Tahapan pertama
nympha akan tampak berwarna hijau cerah dan sudah terdapat antena.
Tahap nympha kedua tampak berwarna hijau pale dan sudah tampak
kepala, abdomen, mata berwarna merah, dan antenna yang terlihat lebih
gelap dari pada warna tubuh. Pada tahap ketiga, antena akan terbagi
menjadi 2 segmen, warna tubuh masih hijau pale dengan sedikit lebih
gelap pada sisi lateral tubuhnya, kaki tampak lebih gelap daripada
warna tubuh. Kutu dewasa ada beberapa yang memiliki sayap (alate) dan
yang tidak memiliki saya (apterous). Sayap pada kutu ini memiliki
panjang antara 0,04 to 0,088 inchi. Tubuh kutu dewasa berwarna kuning
kehijauan sampai berwarna hijau gelap.
Kutu
daun (Rhopalosiphum
maidis)
menyerang pertanaman jagung terutama pada bagian pucuk daun yang
masih muda. Hama
ini menyerang mulai dari awal pertanaman. Hama ini ditemukan sangat
banyak di pertanaman. Gejala
kerusakan yang disebabkan oleh hama ini adalah nekrotik, daun
mengkriting dan warna daun berubah.
2.2.3. Belalang, Oxya
spp. (Orthophtera: Acrididae)
Imago betina Oxya sp.
meletakkan telur secara berkelompok dan ditutupi dengan zat yang
menyerupai busa. Telur-telur tersebut
diletakkan di dalam tanah atau jaringan tanaman padi. Telur Oxya
sp. berwarna coklat kekuningan
berbentuk silinder menyerupai butiran gabah. Satu kelompok telur
rata-rata berisi sembilan butir dan umumnya kelompok telur tersebut
akan menetas pada pagi hari empat minggu setelah peletakkan
(Kalshoven 1981).
Nimfa terdiri dari lima instar yang masing-masing
dapat dibedakan dari ukuran dan warna. Nimfa instar I berukuran 7 mm,
berwarna hitam mengkilap kehijauan dengan mata majemuk abu-abu
keperakan. Nimfa instar 2 berukuran 6- 11 mm, dengan warna hitam
memudar. Nimfa instar 3 berukuran 9-14 mm, berwarna coklat kehijauan
dan sudah terbentuk bakal sayap. Nimfa instar 4 berukuran 12-17 mm,
berwarna hijau kecoklatan dengan bakal sayap mencapai mesotoraks dan
metatoraks. Nimfa instar 5 berukuran 16-22 mm, bakal sayap mencapai
abdomen ruas ketiga. Lama stadium nimfa berkisar antara 51- 73 hari.
Imago jantan umumnya berukuran 18-27 mm, sedangkan
imago betina antara 24-43,5 mm. Imago berwarna hijau kekuningan atau
kuning kecoklatan dan tampak mengkilat. Imago jantan mempunyai
sepasang garis terang dikepala dan bagian dorsal sedangkan pada imago
betina terdapat garis gelap dibagian mata hingga pangkal sayap (CPC
2000).
Gejala serangan belalang tidak spesifik,
bergantung pada tipe tanaman yang diserang dan tingkat populasi. Daun
biasanya bagian pertama yang diserang. Hampir keseluruhan daun habis
termasuk tulang daun, jika serangannya parah. Spesies ini dapat pula
memakan batang dan tongkol jagung jika populasinya sangat tinggi
dengan sumber makanan terbatas
2.3.
Teknik pengendalian
2.3.1.
Pengendalian Ostrinia
furnacalis
- Kultur teknisWaktu tanam yang tepat.Tumpang sari jagung dengan kedelai atau kacang tanah.Pemotongan sebagian bunga jantan (4 dari 6 baris tanaman).Pengendalian hayati, Pemanfaatan musuh alami seperti : Parasitoid Trichogramma spp. Parasitoid tersebut dapat memarasit telur O. furnacalis. Predator Euborellia annulata memangsa larva dan pupa O. Furnacalis. Bakteri Bacillus thuringiensis Kurstaki mengendalikan larva O. Furnacalis, Cendawan sebagai entomopatogenik adalah Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae mengendalikan larva O. furnacalis. Ambang ekonomi 1 larva/tanaman.Pengendalian kimiawi, Penggunaan insektisida yang berbahan aktif monokrotofos, triazofos, diklhrofos, dan karbofuran efektif untuk menekan penggerek batang jagung.
2.3.2.
Pengendalian H. armigera
Pengendalian H.
armigera dapat dilakukan dengan cara
hayati, kultur teknis, dan kimiawi. Pengendalian hayati yaitu
menggunakan parasitoid Trichogramma spp.
yang merupakan parasit telur dan Eriborus
argentiopilosa (Ichneumonidae) parasit
pada larva muda, cendawan Metarhizium
anisopliae menginfeksi larva, bakteri
Bacillus thuringensis dan
virus Helicoverpa armigera Nuclear
Polyhedrosis Virus (HaNPV) menginfeksi
larva. Pengendalian kultur teknis yaitu pengelolaan tanah yang baik
akan merusak pupa yang terbentuk dalam tanah dan dapat mengurangi
populasi H. armigera berikutnya.
Pengendalian kimiawi yaitu dengan penyemprotan insektisida Decis
dilakukan setelah terbentuknya rambut jagung pada tongkol dan
2.3.3.
Pengendalian Lalat Bibit
Pengendalian
hayati : Parasitoid
yang
memarasit telur adalah Trichogramma
spp,
dan parasit larva adalah Opius
sp.
Dan Tetrastichus
sp.
Predator
Clubiona
japonicola yang
merupakan predator imago.
Kultur
teknis dan pola tanam : Oleh
karena aktivitas lalat bibit hanya selama 1 – 2 bulan pada musim
hujan, maka dengan mengubah waktu tanam, pergiliran tanaman dengan
tanaman bukan padi, tanaman dengan tanaman bukan padi, dengan tanam
serempak serangan dapat dihindari.
Varietas
Resisten : Galur-galur
jagung QPM putih yang tahan terhadap lalat bibit adalah MSQ-P1
(S1)-C1-12, MSQ-P1(S1)-C1-44, MSQ-P1(S1)-C1-45, sementara galur-galur
jagung QPM kuning yang tahan terhadap serangan hama ini adalah
MSQ-K1(S1)-C1-16, MSQ-K1(S1)-C1-35, MSQ-K1(S1)-C1-50.
Kimiawi : Pengendalian
dengan insektisida dapat dilakukan dengan perlakuan benih (seed
dressing), yaitu thiodikarb dengan dosis 7,5-15g b.a./kg benih atau
karbofuran dengan dosis 6g b.a./kg benih. Selanjutnya setelah tanaman
berumur 5-7 hari, tanaman disemprot dengan karbosulfan dengan dosis
0,2kg b.a./ha atau thiodikarb 0,75 kg b.a/ha. Penggunaan insektisida
hanya dianjurkan di daerah endemik
2.3.4.
Pengendalian Kutu Daun
Pengendalian hama ini dapat menggunakan musuh
alami yaitu dengan parasitoid Lysiphlebus
mirzai (Famili: Braconidae). Coccinella
sp. dan Micraspis
sp. juga dapat dimanfaatkan sebagai
predator. Selain itu, pengendalian dengan kultur teknis juga dapat
dilakukan yaitu dengan penanaman jagung secara polikultur karena akan
meningkatkan predasi dari predator kutu daun dibandingkan dengan
penanaman secara monokultur.
2.3.5.
Pengendalian Belalang
Beberapa musuh alami berupa parasitoid dan
predator telah dilaporkan dapat mengendalikan populasi Oxya
sp. musuh alami tersebut diantaranya
adalah larva Systoechus sp.
(Diptera: Bombyliidae). Selain itu, burung dan laba-laba dapat
menurunkan populasi Oxya sp.
(CPC 2000). Musuh alami Oxya sp.
dari golongan patogen serangga adalah Metarhizium
anisopliae. Dalam penelitian yang telah
dilakukan, patogen ini digunakan sebagai biopestisida yang mampu
mengendalikan 70-90 % belalang selama kurun
waktu 14-20 hari (Pabbage et
al. 2007).
2.3.6.
Pengendalian Ulat Grayak (Spodoptera
litura)
Kultur
teknik
- Pembakaran tanaman
- Pengolahan tanah yang intensif.
Mengumpulkan
larva atau pupa dan bagian tanaman yang terserang kemudian
memusnahkannya. Penggunaan
perangkap feromonoid seks untuk ngengat sebanyak 40 buah per hektar
atau 2 buah per 500 m2 dipasang di tengah tanaman sejak tanaman
berumur 2 minggu.
Pengendalian
Hayati
Pemanfaatan
musuh alami seperti : patogen
SI-NPV
(Spodoptera litura- Nuclear Polyhedrosis Virus),
Cendawan
Cordisep,
Aspergillus flavus, Beauveria bassina, Nomuarea rileyi, dan
Metarhizium anisopliae,
bakteri
Bacillus
thuringensis,
nematoda
Steinernema
sp,.
Predator
Sycanus
sp,. Andrallus spinideus, Selonepnis geminada,
parasitoid
Apanteles
sp., Telenomus spodopterae, Microplistis similis, dan Peribeae sp.
Pengendalian
Kimiawi
Beberapa
insektisida yang dianggap cukup efektif adalah monokrotofos,
diazinon, khlorpirifos, triazofos, dikhlorovos, sianofenfos, dan
karbaril.
BAB III
PENUTUP
Berdasarkan dari
hasil pemaparan makalah yang berjudul Hama
Penting Pada Tanaman Jagung (Zea
mayz L ), dapat diambil kesimpulan,
yaitu:
- Hama utama tanaman jagung yaitu penggerek batang (Ostrinia furnacalis) dan ulat penggerek tongkol (H. armigera)
- Hama sekunder tanaman jagung yaitu lalat bibit, kutu daun, belalang dan ulat grayak.
- Teknik pengendalian yang dapat dilakukan untuk menekan serangan hama yaitu dengan kultur teknis, pengendalian hayati, pengendalian fisik mekanik dan pengendalian kimiawi.
DAFTAR PUSTAKA
Akib,
W., J. Tandiabang, dan Tenrirawe. 2000. Dinamika hama utama tanaman
jagung pada pola tanam berbasis jagung. Hasil Penelitian Hama dan
Penyakit. Hal.1-9.
Departement
for Environment. 2000. Helicoverpa
armigera
and Helico-verpa
zea.
http:www.defra. gov.uk/ planth/pest note/helicov.htm.
Cunningham, J.P.,
S.A. West, and D.J. Wright. 1998. Learning in the nectar foraging
behaviour of Helicoverpa
armigera.
Unievrsity of Edinburgh. Ecological Entomology. 23:363-369.
Huang,
U., Shaofu Xu, Xiang han Tamag, and Jiawei Du. 2005. Male
orientation inhibitor of Helicoverpa
armigera
(Lepidoptera : Noctuidae). http://plasa.snu.ac.kr/-ksboo/
korean_home/infortation/pheromones/96 symposium/9634mp10.htm.
Kuswanudin,
D., S.G. Budiarti, dan S.A. Rais. 2005. Evaluas
ketahanan plasma nutfah jagung terhadap lalat bibit Atherigona
exigua
Stein. http://66-102.7.104/
search.
Ortega, A. 1987.
Insect Pest of Maize. CIMMYT. P.90-92.
Tandiabang,
J. 2002. Fluktuasi populasi predator dan parasitoid dari Ostrinia
furnacalis
dan Helicoverpa
armigera
pada tanaman jagung di lahan kering. Hasil Penelitian Hama dan
Penyakit. Hal.1-9.
No comments:
Post a Comment