Thursday, April 11, 2013

Tugas Ilmu Hama Terapan


Hama Penting Pada Tanaman Jagung
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Di Indonesia, jagung merupakan bahan pangan penting sumber karbohidrat kedua setelah beras. Disamping itu, jagung pun digunakan untuk bahan makanan ternak (pakan) dan bahan baku industri.  Penggunaan sebagai bahan pakan yang sebgian besar untuk pakan ternak ayam buras menunjukan tendensi makin meninggkat setiap tahun dengan laju kenaikan lebih dari 20%. Sebaliknya pangguanaan sebagai bahan pangan menurun.
Disentralisasi Hama penyakit pada tanaman jagung tersendiri menjadi tantangan dalam peningkatan produksi, tingkat persentase serangan hama dapat mencapai 60 % yang dapat menyebabkan menurunnya hasil produksi pertanian. Seperti Ulat penggerek daun atau batan maupun yang lainnya. Hama ini dapat merusak tanaman jagung baik pada fase vegetatif maupun pada fase generatif.
Berbagai cara pengendalian telah dilakukan antara lain penggunaan insektisida dan varietas tahan. Penggunaan insektisida dalam pengendalian hama sangat populer dikalangan petani, namun banyak fakta yang menunjukkan bahwa penggunaan insektisida yang sangat intensif justru memacu perkembangan populasi hama, sehingga intensitas serangan hama makin meningkat serta berdampak buruk bagi lingkungan, misalnya terjadi resistensi serangga terhadap insektisida, resurgensi, keracunan/matinya musuh alami dan serangga bukan hama, serta mening-katnya biaya produksi. Sedangkan peng-gunaan varietas tahan masih sangat terbatas pada uji preferensi pada ekosistem yang terbatas.
1.2. Tujuan dan Kegunaan
Adapun tujuan penting dalam mempelajari hama penting yang menyerang tanaman jagung (Zea mayz L) yaitu mengetahui jenis-jenis hama yang menyerang tanaman jagung, gejala serangannya, dan pengendaliannya. Sedangkan kegunaannya adalah sebagai bahan informasi dalam pengelompokan tingkat serangan hama pada tanaman jagung

O. furnacalis termasuk ke dalam ordo Lepodoptera dan famili Pyralidae. Hama ini tersebar luas di dan Australia dan dapat menyerang tanaman jagung baik pada fase vegetatif maupun fase generatif. Kerusakan tanaman terjadi karena larva menggerek bagian batang tanaman untuk mendapatkan makanan. Beberapa peneliti mengemukakaan bahwa gerekan O. furnacalis pada batang tidak berpengaruh nyata terhadap penurunan hasil tanaman jagung (Nafus dan Schreiner 1991).
Imago O. furnacalis dapat meletakkan telur 300-500 butir dan umumnya meletakkan telur secara berkelompok di permukaan bawah daun pada tanaman yang berumur 2 minggu terutama pada daun muda yaitu tiga daun teratas (Kalshoven 1981). Jumlah telur tiap kelompok sangat beragam antara 30-50 butir atau bahkan dapat lebih dari 90 butir. Puncak peletakan telur terjadi pada stadia pembentukan malai sampai keluarnya bunga jantan. Kelompok telur yang diletakkan selama fase pembentukan bunga jantan sampai rambut tongkol berwarna coklat, larvanya memberi kontribusi terbesar terhadap kerusakan tanaman (Subandi et al. 1988). BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Hama Utama Tanaman Jagung
2.1.1. Penggerek Batang Jagung, O. furnacalis (Lepidoptera:Pyralidae)
O. furnacalis termasuk ke dalam ordo Lepodoptera dan famili Pyralidae. Hama ini tersebar luas di dan Australia dan dapat menyerang tanaman jagung baik pada fase vegetatif maupun fase generatif. Kerusakan tanaman terjadi karena larva menggerek bagian batang tanaman untuk mendapatkan makanan. Beberapa peneliti mengemukakaan bahwa gerekan O. furnacalis pada batang tidak berpengaruh nyata terhadap penurunan hasil tanaman jagung (Nafus dan Schreiner 1991).
Imago O. furnacalis dapat meletakkan telur 300-500 butir dan umumnya meletakkan telur secara berkelompok di permukaan bawah daun pada tanaman yang berumur 2 minggu terutama pada daun muda yaitu tiga daun teratas (Kalshoven 1981). Jumlah telur tiap kelompok sangat beragam antara 30-50 butir atau bahkan dapat lebih dari 90 butir. Puncak peletakan telur terjadi pada stadia pembentukan malai sampai keluarnya bunga jantan. Kelompok telur yang diletakkan selama fase pembentukan bunga jantan sampai rambut tongkol berwarna coklat, larvanya memberi kontribusi terbesar terhadap kerusakan tanaman (Subandi et al. 1988).
Larva instar pertama langsung berpencar segera sesudah menetas ke bagian tanaman yang lain. Pada stadia pembentukan malai larva instar I hingga instar III akan makan daun muda yang masih menggulung dan pada permukaan daun yang terlindung dari daun yang telah membuka. Sekitar 67-100% dari larva instar I dan II berada pada bunga jantan. Larva instar III masih sebagian besar berada pada bunga jantan meskipun sudah ada pada bagian tanaman yang lain. Instar IV hingga VI mulai menggerek pada bagian buku dan masuk ke dalam batang. Larva masuk ke dalam batang dan menggerek ke bagian atas.
Gejala visual serangan O. furnacalis pada batang adalah adanya lubang gerek pada batang serta terdapatnya kotoran larva di dekat lubang tersebut. Apabila batang dibelah akan tampak liang gerek larva di dalam batang (Malijan dan Sanchez, 1986 dalam Subandi et al. 1988). Menurut Culy (2001), gerekan larva pada batang menyebabkan kerusakan jaringan pembuluh sehingga menggangu proses transportasi air dan unsur hara dan mengakibatkan pertumbuhan terhambat yang pada akhirnya dapat mempengaruhi hasil tanaman. Selain itu, sering ditemukan juga larva instar I-III makan pada pucuk tongkol dan rambut tongkol. Instar berikutnya makan pada tongkol dan biji.
Larva yang akan membentuk pupa membuat lubang keluar yang ditutup dengan lapisan epidermis. Sebagian stadia larva ditemukan makan pada sorgum, Panicum viride, Amaranthus dan berbagai jenis tumbuhan lain apabila tanaman jagung sudah dipanen.
Imago meletakkan telur pada malam hari dan sering dijumpai pada rambut tongkol jagung. Telur diletakkan satu per satu di atas rambut jagung. Setelah menetas larva berpindah ke bagian tongkol jagung yang masih muda dan memakan langsung biji-biji jagung. Seekor betina dapat meletakkan telur hingga 1000 butir. Stadium telur 2-5 hari. Larva yang baru menetas akan makan pada rambut tongkol dan kemudian membuat lubang masuk ke tongkol. Ketika larva makan akan meninggalkan kotoran dan tercipta iklim mikro yang cocok untuk pertumbuhan cendawan yang menghasilkan mikotoksin sehingga tongkol rusak.
Larva H. armigera memiliki kebiasaan makan secara berpindah dari satu buah ke buah lainnya, sehingga jumlah buah yang dirusak selalu lebih banyak daripada jumlah larva yang ada pada tanaman (Daha et al. 1998). Penggerek ini juga dapat menyerang tanaman muda terutama pada pucuk atau malai yang dapat mengakibatkan tidak terbentuknya bunga jantan, berkurangnya hasil dan bahkan tanaman dapat mati (Subandi et al. 1988).
Larva muda berwarna putih kekuning-kuningan dengan toraks berwarna hitam. Stadium larva terdiri dari 6 instar dan berjumlah antara 17-24 dalam satu tongkol. Larva instar terakhir akan meninggalkan tongkol dan membentuk pupa dalam tanah. Stadium pupa berkisar antara 12-14 hari. Dari telur hingga stadia dewasa berupa kupu-kupu kecil berkisar 35 hari dan terbang mengisap madu dari bunga (Kalshoven 1981).
Gejala serangan ulat penggerek tongkol dimulai pada saat pembentukan kuncup bunga dan buah muda. Menurut Daha et al. (1998), tanaman tomat atraktif terhadap peneluran H. armigera selama berlangsung fase pembungaan. Larva H. armigera masuk ke dalam buah muda, memakan biji-biji jagung karena larva hidup di dalam buah, biasanya serangan serangga ini sulit diketahui dan sulit dikendalikan dengan insektisida (Sarwono 2003).
2.1.3. Ulat Grayak (Spodoptera litura, Mythimna sp. Noctuidae: Lepidotera) 
Spodoptera litura meletakkan telur secara berkelompok di permukaan daun dan ditutupi oleh bulu-bulu yang berwarna coklat muda dan setiap kelompok telur terdiri atas 50-400 butir. Larva terdiri atas enam instar dan instar terakhir mempunyai bobot mencapai 800 mg dan menghabiskan 80% dari total konsumsi makanannya Larva bersembunyi dalam tanah pada siang hari dan baru aktif pada malam hari, kecuali S. exempta yang juga aktif pada siang hari. Spesies ini adalah serangga polipagous. Tanaman inangnya selain jagung adalah tomat, kapas, tembakau, padi, kakao, jeruk, ubi jalar, kacang tanah, jarak, kedelai, kentang, kubis, dan bunga matahari.
Mythimna sp. merupakan hama polipagous dan menyerang banyak tanaman, antara lain jagung, padi, sorgum, dan kacang-kacangan. Ada beberapa spesies dari genus ini yang dapat merusak tanaman jagung antara lain M. separata dan M. loreyi.
Serangga meletakkan telur secara berkelompok pada daun dan ditutupi dengan bulu-bulu yang berwarna coklat. Seekor M. separata betina mampu meletakkan telur 500-900 butir. Masa inkubasi telur berkisar antara 2-13 hari, bergantung suhu, tetapi normalnya 3-4 hari pada suhu 25OC. Telur yang baru diletakkan berwarna hijau keputih-putihan, kemudian berubah menjadi kuning dan berwarna hitam sebelum menetas.
Larva instar I memakan cangkang telur. Stadia larva terdiri atas enam instar dengan stadium 13-18 hari. Pada siang hari larva bersembunyi dalam tanah dan aktif menyerang pada malam hari. Pola warna larva berbeda, bergantung pada perilakunya.
Pada kondisi gregarious larva berwarna gelap dan aktif, sementara pada kondisi solitary berwarna lebih terang dan pasif. Pupa terbentuk dalam tanah dengan lama pupasi sekitar sembilan hari. Serangga dewasa dapat kawin beberapa kali dan meletakkan telur selama 2-6 hari. Perkembangan dari telur sampai dewasa berkisar 30-39 hari.
Gejala serangan, Larva serangga ini memakan daun dengan bentuk yang tidak beraturan. Dalam kondisi yang sangat lapar, larva memakan daun hingga menyisakan tulang daun.
2.2. Hama Sekunder
2.2.1. Lalat Bibit (Atherigona sp., Ordo: Diptera)
Atherigona sp. biasanya meletakkan telur pada pagi hari atau malam hari. Telur-telur tersebut diletakkan secara tunggal di bawah daun, axil daun, atau batang dekat permukaan tanah. Telur menetas pada malam hari minimal 33 jam atau maksimal empat hari setelah telur diletakkan. Telur spesies ini berwarna putih dengan panjang 1,25 mm dan lebar 0,35 mm dan warnanya berubah menjadi gelap sebelum menetas.
Larva terdiri atas tiga instar dengan stadia larva 6-18 hari. Larva spesies ini terdiri atas 12 ruas (satu ruas kepala, tiga ruas thorax, dan delapan ruas abdomen). Panjang larva mencapai 9 mm, berwarna putih krem pada awalnya dan selanjutnya menjadi kuning hingga kuning gelap.
Pupa terdapat pada pangkal batang dekat atau di bawah permukaan tanah. Imago keluar dari pupa setelah 5-12 hari pada pagi atau sore hari. Puparium berwarna coklat kemerahan sampai coklat dengan panjang 4,1 mm. Segmentasi tidak dapat dibedakan.
Imago akan terbang satu jam setelah keluar dari pupa. Kopulasi tidak terjadi pada beberapa hari setelah muncul dari pupa. Serangga dewasa sangat aktif terbang dan sangat tertarik pada kecambah atau tanaman yang baru tumbuh. Imago berukuran kecil dengan panjang 2,5-4,5 mm, caput agak lebar dengan antena panjang, thorax berambut, abdomen berwarna kuning dengan spot hitam pada bagian dorsal. Imago betina mulai meletakkan telur 3-5 hari setelah kawin dengan jumlah telur 7-22 butir atau bahkan dapat mencapai 70 butir. Imago betina meletakkan telur selama 3-7 hari.
Lama hidup serangga dewasa bervariasi antara 5-23 hari, masa hidup betina dua kali lebih lama daripada jantan. Siklus hidup telur hingga menjadi dewasa adalah 21-28 hari.
Gejala serangan, Larva yang baru menetas melubangi batang, kemudian membuat terowongan hingga ke dasar batang sehingga tanaman menjadi kuning dan akhirnya mati. Jika tanaman mengalami recovery, maka pertumbuhannya akan kerdil.
2.2.2 Kutu Daun, Rhopalosiphum maidis Fitch. (Homoptera: Aphididae)
Kutu Daun ini menginfeksi semua bagian tanaman, akan tetapi infeksi terbanyak terjadi pada daun. Kutu ini selain merusak daun tanaman inangnya juga membawa sebagai vector dari berbagai macam virus penyakit. Populasi kutu ini dapat mengalami perkembangan yang pesat.
Perkembangbiakan kutu daun secara parthenogenesis memungkinkan spesies kutu daun ini untuk melestarikan jenisnya tanpa harus melakukan perkawinan. Daur hidup kutu ini dimulai dari telur, kemudian nympha, dan kutu dewasa. Pada fase nympha, kutu ini mengalami 4 tahapan. Tahapan pertama nympha akan tampak berwarna hijau cerah dan sudah terdapat antena. Tahap nympha kedua tampak berwarna hijau pale dan sudah tampak kepala, abdomen, mata berwarna merah, dan antenna yang terlihat lebih gelap dari pada warna tubuh. Pada tahap ketiga, antena akan terbagi menjadi 2 segmen, warna tubuh masih hijau pale dengan sedikit lebih gelap pada sisi lateral tubuhnya, kaki tampak lebih gelap daripada warna tubuh. Kutu dewasa ada beberapa yang memiliki sayap (alate) dan yang tidak memiliki saya (apterous). Sayap pada kutu ini memiliki panjang antara 0,04 to 0,088 inchi. Tubuh kutu dewasa berwarna kuning kehijauan sampai berwarna hijau gelap.
Kutu daun (Rhopalosiphum maidis) menyerang pertanaman jagung terutama pada bagian pucuk daun yang masih muda. Hama ini menyerang mulai dari awal pertanaman. Hama ini ditemukan sangat banyak di pertanaman. Gejala kerusakan yang disebabkan oleh hama ini adalah nekrotik, daun mengkriting dan warna daun berubah.
2.2.3. Belalang, Oxya spp. (Orthophtera: Acrididae)
Imago betina Oxya sp. meletakkan telur secara berkelompok dan ditutupi dengan zat yang menyerupai busa. Telur-telur tersebut diletakkan di dalam tanah atau jaringan tanaman padi. Telur Oxya sp. berwarna coklat kekuningan berbentuk silinder menyerupai butiran gabah. Satu kelompok telur rata-rata berisi sembilan butir dan umumnya kelompok telur tersebut akan menetas pada pagi hari empat minggu setelah peletakkan (Kalshoven 1981).
Nimfa terdiri dari lima instar yang masing-masing dapat dibedakan dari ukuran dan warna. Nimfa instar I berukuran 7 mm, berwarna hitam mengkilap kehijauan dengan mata majemuk abu-abu keperakan. Nimfa instar 2 berukuran 6- 11 mm, dengan warna hitam memudar. Nimfa instar 3 berukuran 9-14 mm, berwarna coklat kehijauan dan sudah terbentuk bakal sayap. Nimfa instar 4 berukuran 12-17 mm, berwarna hijau kecoklatan dengan bakal sayap mencapai mesotoraks dan metatoraks. Nimfa instar 5 berukuran 16-22 mm, bakal sayap mencapai abdomen ruas ketiga. Lama stadium nimfa berkisar antara 51- 73 hari.
Imago jantan umumnya berukuran 18-27 mm, sedangkan imago betina antara 24-43,5 mm. Imago berwarna hijau kekuningan atau kuning kecoklatan dan tampak mengkilat. Imago jantan mempunyai sepasang garis terang dikepala dan bagian dorsal sedangkan pada imago betina terdapat garis gelap dibagian mata hingga pangkal sayap (CPC 2000).
Gejala serangan belalang tidak spesifik, bergantung pada tipe tanaman yang diserang dan tingkat populasi. Daun biasanya bagian pertama yang diserang. Hampir keseluruhan daun habis termasuk tulang daun, jika serangannya parah. Spesies ini dapat pula memakan batang dan tongkol jagung jika populasinya sangat tinggi dengan sumber makanan terbatas
2.3. Teknik pengendalian
2.3.1. Pengendalian Ostrinia furnacalis
  • Kultur teknis
    Waktu tanam yang tepat.
    Tumpang sari jagung dengan kedelai atau kacang tanah.
    Pemotongan sebagian bunga jantan (4 dari 6 baris tanaman).
    Pengendalian hayati, Pemanfaatan musuh alami seperti : Parasitoid Trichogramma spp. Parasitoid tersebut dapat memarasit telur O. furnacalis. Predator Euborellia annulata memangsa larva dan pupa O. Furnacalis. Bakteri Bacillus thuringiensis Kurstaki mengendalikan larva O. Furnacalis, Cendawan sebagai entomopatogenik adalah Beauveria bassiana dan Metarhizium anisopliae mengendalikan larva O. furnacalis. Ambang ekonomi 1 larva/tanaman.
    Pengendalian kimiawi, Penggunaan insektisida yang berbahan aktif monokrotofos, triazofos, diklhrofos, dan karbofuran efektif untuk menekan penggerek batang jagung.
2.3.2. Pengendalian H. armigera
Pengendalian H. armigera dapat dilakukan dengan cara hayati, kultur teknis, dan kimiawi. Pengendalian hayati yaitu menggunakan parasitoid Trichogramma spp. yang merupakan parasit telur dan Eriborus argentiopilosa (Ichneumonidae) parasit pada larva muda, cendawan Metarhizium anisopliae menginfeksi larva, bakteri Bacillus thuringensis dan virus Helicoverpa armigera Nuclear Polyhedrosis Virus (HaNPV) menginfeksi larva. Pengendalian kultur teknis yaitu pengelolaan tanah yang baik akan merusak pupa yang terbentuk dalam tanah dan dapat mengurangi populasi H. armigera berikutnya. Pengendalian kimiawi yaitu dengan penyemprotan insektisida Decis dilakukan setelah terbentuknya rambut jagung pada tongkol dan

2.3.3. Pengendalian Lalat Bibit
Pengendalian hayati : Parasitoid yang memarasit telur adalah Trichogramma spp, dan parasit larva adalah Opius sp. Dan Tetrastichus sp. Predator Clubiona japonicola yang merupakan predator imago.
Kultur teknis dan pola tanam : Oleh karena aktivitas lalat bibit hanya selama 1 – 2 bulan pada musim hujan, maka dengan mengubah waktu tanam, pergiliran tanaman dengan tanaman bukan padi, tanaman dengan tanaman bukan padi, dengan tanam serempak serangan dapat dihindari.
Varietas Resisten : Galur-galur jagung QPM putih yang tahan terhadap lalat bibit adalah MSQ-P1 (S1)-C1-12, MSQ-P1(S1)-C1-44, MSQ-P1(S1)-C1-45, sementara galur-galur jagung QPM kuning yang tahan terhadap serangan hama ini adalah MSQ-K1(S1)-C1-16, MSQ-K1(S1)-C1-35, MSQ-K1(S1)-C1-50.
Kimiawi : Pengendalian dengan insektisida dapat dilakukan dengan perlakuan benih (seed dressing), yaitu thiodikarb dengan dosis 7,5-15g b.a./kg benih atau karbofuran dengan dosis 6g b.a./kg benih. Selanjutnya setelah tanaman berumur 5-7 hari, tanaman disemprot dengan karbosulfan dengan dosis 0,2kg b.a./ha atau thiodikarb 0,75 kg b.a/ha. Penggunaan insektisida hanya dianjurkan di daerah endemik
2.3.4. Pengendalian Kutu Daun
Pengendalian hama ini dapat menggunakan musuh alami yaitu dengan parasitoid Lysiphlebus mirzai (Famili: Braconidae). Coccinella sp. dan Micraspis sp. juga dapat dimanfaatkan sebagai predator. Selain itu, pengendalian dengan kultur teknis juga dapat dilakukan yaitu dengan penanaman jagung secara polikultur karena akan meningkatkan predasi dari predator kutu daun dibandingkan dengan penanaman secara monokultur. 
2.3.5. Pengendalian Belalang
Beberapa musuh alami berupa parasitoid dan predator telah dilaporkan dapat mengendalikan populasi Oxya sp. musuh alami tersebut diantaranya adalah larva Systoechus sp. (Diptera: Bombyliidae). Selain itu, burung dan laba-laba dapat menurunkan populasi Oxya sp. (CPC 2000). Musuh alami Oxya sp. dari golongan patogen serangga adalah Metarhizium anisopliae. Dalam penelitian yang telah dilakukan, patogen ini digunakan sebagai biopestisida yang mampu mengendalikan 70-90 % belalang selama kurun waktu 14-20 hari (Pabbage et al. 2007).
2.3.6. Pengendalian Ulat Grayak (Spodoptera litura)
Kultur teknik
  1. Pembakaran tanaman
  2. Pengolahan tanah yang intensif.
Pengendalian fisik / mekanis
Mengumpulkan larva atau pupa dan bagian tanaman yang terserang kemudian memusnahkannya. Penggunaan perangkap feromonoid seks untuk ngengat sebanyak 40 buah per hektar atau 2 buah per 500 m2 dipasang di tengah tanaman sejak tanaman berumur 2 minggu.
Pengendalian Hayati
Pemanfaatan musuh alami seperti : patogen SI-NPV (Spodoptera litura- Nuclear Polyhedrosis Virus), Cendawan Cordisep, Aspergillus flavus, Beauveria bassina, Nomuarea rileyi, dan Metarhizium anisopliae, bakteri Bacillus thuringensis, nematoda Steinernema sp,. Predator Sycanus sp,. Andrallus spinideus, Selonepnis geminada, parasitoid Apanteles sp., Telenomus spodopterae, Microplistis similis, dan Peribeae sp.
Pengendalian Kimiawi
Beberapa insektisida yang dianggap cukup efektif adalah monokrotofos, diazinon, khlorpirifos, triazofos, dikhlorovos, sianofenfos, dan karbaril.
BAB III
PENUTUP

Berdasarkan dari hasil pemaparan makalah yang berjudul Hama Penting Pada Tanaman Jagung (Zea mayz L ), dapat diambil kesimpulan, yaitu:
  1. Hama utama tanaman jagung yaitu penggerek batang (Ostrinia furnacalis) dan ulat penggerek tongkol (H. armigera)
  2. Hama sekunder tanaman jagung yaitu lalat bibit, kutu daun, belalang dan ulat grayak.
  3. Teknik pengendalian yang dapat dilakukan untuk menekan serangan hama yaitu dengan kultur teknis, pengendalian hayati, pengendalian fisik mekanik dan pengendalian kimiawi.

DAFTAR PUSTAKA

Akib, W., J. Tandiabang, dan Tenrirawe. 2000. Dinamika hama utama tanaman jagung pada pola tanam berbasis jagung. Hasil Penelitian Hama dan Penyakit. Hal.1-9.
Departement for Environment. 2000. Helicoverpa armigera and Helico-verpa zea. http:www.defra. gov.uk/ planth/pest note/helicov.htm.
Cunningham, J.P., S.A. West, and D.J. Wright. 1998. Learning in the nectar foraging behaviour of Helicoverpa armigera. Unievrsity of Edinburgh. Ecological Entomology. 23:363-369.
Huang, U., Shaofu Xu, Xiang han Tamag, and Jiawei Du. 2005. Male orientation inhibitor of Helicoverpa armigera (Lepidoptera : Noctuidae). http://plasa.snu.ac.kr/-ksboo/ korean_home/infortation/pheromones/96 symposium/9634mp10.htm.
Kuswanudin, D., S.G. Budiarti, dan S.A. Rais. 2005. Evaluas ketahanan plasma nutfah jagung terhadap lalat bibit Atherigona exigua Stein. http://66-102.7.104/ search.
Ortega, A. 1987. Insect Pest of Maize. CIMMYT. P.90-92.
Tandiabang, J. 2002. Fluktuasi populasi predator dan parasitoid dari Ostrinia furnacalis dan Helicoverpa armigera pada tanaman jagung di lahan kering. Hasil Penelitian Hama dan Penyakit. Hal.1-9.








No comments:

Post a Comment